IMG-20170808-WA0059

Oleh : Imam Maulana
(Ketua Umum KAMMI Daerah Serang)

Kota Serang merupakan Ibu Kota Provinsi Banten yang memiliki letak geografis di tengah magnet pertumbuhan ekonomi di wilayah Barat dan Timur Provinsi Banten.

Di tambah dengan jarak yang relatif dekat dengan Ibu Kota Negara DKI Jakarta serta merupakan gerbang masuk dan keluar Pulau Sumatera, membuat Kota Serang menjadi wilayah yang memiliki prospek yang bagus di masa depan.

Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), pertumbuhan ekonomi Kota Serang Tahun 2014 mencapai angka di atas 6,46%, yang berarti berhasil mencapai pertumbuhan di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi yang hanya pada kisaran 5%.

Isu perekonomian tersebut menjadi salah satu isu utama Pemerintah Kota Serang.

Terbukkti dalam salah satu Misi nya yang termaktub dalam RPJMD Kota Serang Tahun 2014-2018, Pemerintah Kota Serang berjanji akan menyediakan prasarana dan sarana wilayah sebagai pendorong kemajuan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, serta pengendalian tata ruang kota yang berwawasan lingkungan.
Untuk mendorong kemajuan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, salah satu alternatifnya ialah pemerintah kota Serang harus serius memperhatikan ekonomi berbasis kerakyatan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi.

Ekonomi kerakyatan merupakan sistem perekonomian yang di bangun dengan kekuatan dari ekonomi rakyat. Ekonomi kerakyatan juga memberikan kesempatan kepada rakyat untuk turut berpartisipasi. Akan tetapi sayangnya spirit ekonomi kerakyatan ini tidak ditunjang dengan fasilitas dan pengelolaan yang baik, dengan dibuktikan masih carut marutnya Pasar Tradisional yang ada di Kota Serang.

Pasar tradisional menjadi sebuah hal yang penting dalam isu ekonomi kerakyatan. Dimana di pasar tradisional inilah kita melihat masyarakat masih bertumpu untuk mencari pendapatan. Dalam hal ini pemerintah daerah bertanggungjawab penuh dalam memberikan fasilitas yang memadai untuk kepentingan rakyat sebagai pelaku usaha di pasar tradisional.

Hal ini sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Daerah Kota Serang No.4 Tahun 2011 tentang Pengembangan, Pemberdayaan, Penataan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, Pasal 7 ayat 3, bahwa Pemerintah Daerah Wajib meningkatkan kualitas dan sarana Pasar Tradisional, UMKM serta pelaku-pelaku usaha yang ada di dalamnya.

Sedangkan pada kenyataanya beberapa Pasar Tradisional yang ada di wilayah Kota Serang ini dalam kondisi yang kurang baik. Kita tentu tahu bagaimana kondisi Pasar Rau yang merupakan Pasar Induk. Lingkungan pasar yang kumuh, membuat sebagian masyarakat enggan untuk berbelanja di Pasar Rau. Beberapa fasilitas seperti tangga jalan sudah tidak berfungsi dan dalam kondisi yang memprihatinkan. Ruangan di lantai atas pun tidak diminati pedagang, karena akses yang membuat konsumen malas untuk berbelanja di lantai atas.

Bukan hanya kondisi di dalam pasar yang harus dibenahi, tetapi kondisi di luar pasar tidak kalah semrawutnya. Lalu lintas di sekitar pasar Rau misalnya. Di beberapa ruas jalan, para pedagang masih tampak tumpah ke jalan, belum lagi para pengendara yang melawan arus, sehingga kemacetan menjadi hal yang sulit untuk dibendung. Hal ini memang perlu sinergitas yang baik antara pemerintah, pihak swasta yang mengelola pasar Rau dan para pelaku usaha sehingga tercipta kondisi pasar yang bersih dan nyaman.

Selain pasar Rau, di Kota Serang juga terdapat pasar tradisional lainnya sperti Pasar Lama yang masih berdekatan dengan aktivitas perdagangan di daerah Royal. Lalu lintas di Pasar Lama juga tidak kalah semrawut. Para pengguna jalan sering mengeluhkan kondisi tersebut. Lagi-lagi memang kita tidak bisa menyalahkan pemerintah daerah sepenuhnya, akan tetapi pemerintah juga mesti memberikan alternatif kongkrit bagi pedagang yang sering mengisi bahu jalan sehinga berakibat pada kemacetan.

Menyinggung aktivitas perdagangan di daerah Royal, Kota Serang, penulis pernah memiliki mimpi bahwa daerah sekitar Royal itu bisa dijadikan icon pusat wisata kota Serang seperti di Jl.Malioboro, Jogjakarta. Dengan letak geografisnya yang tidak jauh dengan Alun-alun Kota Serang, penulis yakin bahwa jika pasar Royal ini dikelola dengan kreatif, maka akan menjadi magnet wisatawan berkunjung ke Kota Serang, melihat bahwa pada kenyataannya tempat-tempat wisata kota Serang yang juga minim.

Dengan dibuatnya pusat wisata seperti itu, maka akan mendongkrak penghasilan masyarakat yang berjualan di daerah jalan tersebut. Bukan hanya itu, komunitas-komunitas kreatif budaya lainnya akan bermunculan seiring dengan hadirnya para wisatawan yang ingin mengenal Kota Serang lebih dalam, khususnya dalam hal kebudayaan. Tentu hal ini adalah kabar gembira untuk masyarakat Kota Serang yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak perekonomian masyarakat Kota Serang itu sendiri.

Jika kita perhatikan, setiap pasar tradisional memiliki ke-khas-an masing-masing. Misalnya Pasar Tamansari. Terdiri dari dua pedagang. Pedagang binatang peliharaan dan pedagang makanan. Lokasi pasar yang dekat dengan Masjid Agung Serang dan Stasiun Kereta ini membuat pasar ini tidak pernah sepi. Sebagaimana pantauan penulis, di pasar tersebut sedang dilakukan renovasi lapak untuk pedagang-pedagang di sana. Pasar tersebut juga sering disebut dengan pasar pagi. Karena setiap pagi, pasar tersebut menjajakkan makanan-makanan khas daerah yang jarang ditemui di tempat lain. Tentu ini adalah potensi ekonomi lokal yang jika diberikan ruang lebih dalam hal sarana penjualan dan sarana promosi, maka akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat kota serang sebagai pengrajin-pengrajin kue khas daerah.

Belum selesai permasalahan Pasar Tradisional atau disebut juga Pasar Rakyat, muncul pasar-pasar modern yang menjamur, yang keberdaannya tentu berdampak pada pasar tradisional. Dari pasar modern skala besar sampai skala kecil. Yang pendiriannya disinyalir bertentangan dengan peraturan daerah. Misalnya dalam hal jarak antar pasar modern dan pasar tradisional, khsusunya minimarket-minimarket yang berdekatan seperti dibiarkan oleh pemerintah daerah. Padahal dalam Peraturan Daerah Kota Serang No.4 Tahun 2011 Tentang Pengembangan, Pemberdayaan, Penataan Pasar Tradisional. Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, Pasal 8 ayat 6 bahwa, Jarak pendirian minimarket harus memenuhi ketentuan dengan radius paling dekat 500 m dari minimarket yang sudah ada. Pada kenyataanya, minimarket seperti jamur yang tumbuh di musim hujan.

Guna mendorong ekonomi kerakyatan untuk membangun daerah Kota Serang, maka pemerintah daerah harus melakukan langkah kongkrit dalam penanganan pasar tradisional sebagai pasar rakyat dengan pengelolaan yang baik.

Serta sebagai bentuk keberpihakan pemerintah kepada rakyat, maka perlu adanya penertiban pasar-pasar modern sesuai peraturan yang telah dibuat. Dengan memiliki pasar tradisional yang mumpuni, kota Serang sebagai pusat perdagangan di Provinsi Banten akan tercapai. (***).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*